Selasa, 13 September 2022

Jurnal Refleksi Modul 2.1 (Pembelajaran Berdiferensiasi) - Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5

 Assalamualaikum wr.wb

Salam dan bahagia bapak ibu guru hebat dimanapun berada.

Berikut ini Jurnal refleksi saya selama mengikuti pembelajaran di Modul 2.1 Merefleksikan diri merupakan bagian penting bagi kita untuk melihat sejauh mana potensi yang sudah kita miliki, hal apa yang perlu diperbaiki dan perlu ditingkatkan agar ke depannya kita dapat meningkatkan kompetensi diri. 

Peristiwa

    Perjalanan mempelajari modul 2.1 merupakan kelanjutan dari modul sebelumnya yaitu modul 1. Kegiatan diawali dengan pre-test untuk melihat kemampuan awal CGP. Pembelajaran menggunakan alur MERDEKA (Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata). 

    Mulai dari diri merupakan awal untuk mempersiapkan diri dalam menerima pengetahuan baru pada modul 2.1, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi konsep pemikiran kita dari modul yang sudah dipelajari, diskusi dengan rekan CGP dalam ruang kolaborasi untuk menemukan kesamaan persepsi serta saling memberi masukan konstruktif dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi, secara mandiri menyusun RPP berdiferensiasi diunggah di LMS untuk mendapat umpan balik dari sesama CGP dan fasilitator, mendapat penguatan dari narasumber dalam elaborasi pemahaman, membuat keterkaitan dengan materi sebelumnya yang sudah dipelajari, dan diakhiri dengan aksi nyata praktik pembelajaran berdiferensiasi di kelas sesuai dengan RPP yang sudah dibuat.  

Diagram Frayer :

Perasaan

    Pada modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi ini, saya baru sadar bahwa sistem mengajar saya selama ini masih kurang tepat. Karena kita hanya berfokus pada ketercapaian materi kurikulum, sehingga yang saya kejar adalah ketuntasan materi tanpa memperhatikan apakah semua siswa sudah memahami materi tersebut atau belum. Selama ini, model pembelajaran yang kita pakai di kelas selalu sama untuk semua siswa, namun setelah mempelajari modul ini saya baru paham bahwa dalam menyampaikan materi pun kita harus memperhatikan cara belajar siswa di kelas yang tentunya berbeda-beda. Kita harus lebih kreatif dalam memilih model dan teknik penyampaian materi agar semua siswa dapat merasakan kemudahan saat belajar karena model pembelajarannya sesuai dengan gaya belajar mereka. 
    Dalam kegiatan ruang kolaborasi, banyak sekali ilmu dan pengalaman yang saya dapat dari kegiatan sharing dengan rekan CGP yang lain. Di kegiatan inilah kita bisa sharing dengan rekan CGP tentang strategi-strategi penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.





Pembelajaran

    Pembelajaran berdiferensiasi didesain agar guru bisa melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan belajar murid. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid.

    Modul ini mempunyai koneksi dengan materi pada modul-modul sebelumnya, semua terangkum dalam video yang telah saya buat. Bisa di lihat pada video berikut ini :



Penerapan

    Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat diselenggarakan secara efektif, maka perlu pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar murid, agar guru dapat menentukan perbedaan konten, proses, serta produk dalam kegiatan pembelajaran. Data pemetaan bisa diperoleh dari data murid pada tahun/semester sebelumnya, melalui angket, melalui pengamatan, atau wawancara dengan sesama rekan guru dan wali murid. Bagi saya ini merupakan pengetahuan baru, sehingga dalam penerapannya di kelas tidak semudah yang kita bayangkan. Pengalaman yang saya alami yaitu jika kita hanya mengandalkan angket gaya belajar, hal itu tidak bisa menjadi satu-satunya acuan dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. karena bisa jadi dalam mengisi angket, anak masih belum menyadari apa kebutuhan dirinya. Maka sebaiknya kita juga perlu melakukan pengamatan di kelas tentang gaya belajar ini, bisa juga dengan berdiskusi dengan rekan guru yang lain bahkan dengan orang tuanya.



Semangat untuk kita semua bapak ibu guru, mari ikut berkontribusi dalam transformasi pendidikan di Indonesia, murid kita sekarang adalah aset yang kelak menjadi pemimpin bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Transformasi Pembelajaran Melalui Difusi dan Inovasi: Menuju Masa Depan Pendidikan

Pendidikan adalah pilar utama dalam pembangunan suatu masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, metode pembelajaran juga perlu terus be...