Rabu, 26 Oktober 2022

Jurnal Refleksi Modul 3.1 (Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin) - Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V

 Assalamualaikum wr.wb

Salam Bahagia bapak-ibu guru hebat!

Pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan jurnal refleksi saya pada modul 3.1.


PERISTIWA (FACTS)

    Modul ini dimulai dengan mulai dari diri dan eksplorasi konsep. Menjalin komunikasi dan berdiskusi dengan rekan sejawat, berbagi wawasan bagaimana memahami dilema etika dan bujukan moral, berbagi pengalaman dan membantu mencarikan solusi dari permasalahan dilema etika yang dihadapi rekan sejawat dengan mengaplikasikan 9 langkah pengambilan keputusan yang berpihak pada murid.
Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika kita harus dihadapkan pada dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Ada 4 paradigma pengambilan keputusan yaitu :
Individu vs community
Keadilan (justice) vs rasa kasihan (honesty)
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Disamping itu pada modul ini dikenalkan 3 prinsip pengambilan keputusan :
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking),
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking),
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

Sebelum menentukan keputusan yang baik bagi sesama harus ditempuh 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan:
1. mengenali nilai-nilai yang bertentangan,
2. menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut,
3. mengumpulkan fakta yang relevan,
4. melakukan pengujian benar atau salah dengan uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran dan uji panutan,
5. pengujian paradigma benar lawan benar,
6. melakukan prinsip pengambilan keputusan,
7. investigasi opsi trilemma,
8. membuat keputusan,
9. melihat kembali keputusan dan melakukan refleksi.
    Pada aksi nyata modul ini, kami diminta untuk mewawancarai beberapa kepala sekolah dan mendiskusikan tentang permasalahan-permasalahan yang pernah beliau hadapi selama menjabat sebagai kepala sekolah dan bagaimana mereka menghadapi dan mengatasi masalah tersebut.

PERASAAN (FEELINGS)

    Perasaan saya ketika dihadapkan pada suatu masalah yaitu sangat tertantang karena kita harus paham masalah tersebut merupakan dilema etika atau bujukan moral. Kemudian pada pengambilan keputusan ini juga kita menggolongkan problem tersebut termasuk pada paradigma apa dari 4 paradigma yang ada , Kemudian prinsip apa yang kita terapkan serta menguji keputusan yang kita buat dengan 9 langkah pengambilan serta pengujian keputusan.

    Pada kegiatan wawancara beberapa kepala sekolah saya sangat senang sekali karena saya dapat mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman beliau. Kepala sekolah yang telah saya wawancarai yaitu Bapak Tupardi,S.Pd kepala sekolah di SD Negeri Pauh dan juga Bapak Suratman,M.Pd kepala sekolah dari SMP Negeri 5 Tungkal Jaya.



PEMBELAJARAN (FINDINGS)
    Saya sangat bersyukur dengan mengikuti program Pendidikan Guru Penggerak ini setidaknya saya mengenal perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah.
Dampak mempelajari materi ini buat saya sangat berarti, setelah mempelajari ada perubahan cara berpikir dalam mengambil keputusan, bahwa keputusan tersebut harus menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan serta pengujian keputusan.

    
    Dari sharing pengalaman Kepala sekolah dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan di sekolah, saya mengambil beberapa pembelajaran, diantaranya yaitu dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mempertimbangkan matang-matang terlebih dahulu akan sebab akibat yang akan terjadi kedepannya jika kita sebagai pemimpin mengambil keputusan ini. Karena keputusan kepala sekolah dapat berdampak untuk semua warga sekolah itu sendiri. Kemudian untuk permasalahan yang kompleks dan perlu di diskusikan dengan pihak lain maka kepala sekolah dapat melakukan pertemuan dengan para guru untuk membuat keputusan bersama.


PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)
    Aksi nyata ini sangat penting sekali sebagai bekal dan melatih diri untuk pengambilan keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Untuk kedepannya saya dapat lebih berhati-hati lagi dalam pengambilan keputusan, apalagi jika keputusan tersebut dapat berpengaruh besar terhadap orang banyak.

Adapun koneksi antar materi pada modul ini yaitu :



Rabu, 12 Oktober 2022

Jurnal Refleksi Modul 2.3 (Coaching Untuk Supervisi Akademik) - Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5

 Assalamualaikum wr.wb

Salam Bahagia Bapak-Ibu Guru Hebat !

Kali ini saya akan membahas tentang refleksi saya terhadap modul 2.3, Coaching Untuk Supervisi Akademik.

Facts (Peristiwa)

    Di minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran pada modul 2.3 dimulai dengan merefleksikan diri saya tentang supervisi di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara, selanjutnya masuk  eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. 

    Selanjutnya membahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching , disini dipelajari alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif serta keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching.

    Pada kegiatan ruang kolaborasi kami diminta untuk praktik coaching dengan rekan sesama CGP, pada tahap rukol diskusi masih terasa sekali bahwa coaching yang dilakukan sangat kaku dan kurang dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan berbobot, kemudian pada kegiatan rukol keesokan harinya sedikit lebih baik dari sebelumnya karena alur TIRTA sudah mulai terstruktur dan terarah dan sedikit muncul pertanyaan yang berbobot meskipun masih jauh dari kata sempurna. Hal ini sangat wajar sekali dalam proses pembelajaran. Kemudian untuk aksi nyata CGP diminta untuk melaksanakan coaching dengan rekan sejawat di sekolah, dimulai dari tahap pra-observasi, observasi hingga tahap pasca-observasi. Hal ini merupakan pengalaman pertama bagi saya dalam mensupervisi guru di kelas, ternyata banyak sekali ilmu yang di dapat dari kegiatan pada modul 2.3 ini. 


Feelings (Perasaan)


    Saya antusias dan sangat semangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya menjadi begitu penasaran di awalnya bagaimana menjadi coach yang baik, dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul ini sehingga membuat kami menjadi lebih terlatih dalam kegiatan coaching. Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik.


Findings (Pembelajaran)


    Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. memberi saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coach yang baik dan bagaimana melakukan supervisi akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat. 
Kemudian kami diminta untuk membuat koneksi antar materi yang pernah didapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervisi akademik, di modul ini juga saya mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantunya mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat.


Future (Penerapan)


    Dalam penerapannya, teknik coaching ini bukan hanya dapat digunakan dalam proses pembelajaran atau permasalahan di sekolah, namun juga dapat kita terapkan dalam kehidupan rumah tangga dengan suami, anak bahkan dengan orang tua. Coaching juga bukan hanya dengan sesama guru, tapi juga dapat kita praktikkan pada siswa yang mempunyai permasalahan. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya saya berharap praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehingga semua mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain.

Video koneksi antar materi modul 2.3 :



Transformasi Pembelajaran Melalui Difusi dan Inovasi: Menuju Masa Depan Pendidikan

Pendidikan adalah pilar utama dalam pembangunan suatu masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, metode pembelajaran juga perlu terus be...