Assalamualaikum wr.wb
Salam Bahagia Bapak-Ibu Guru Hebat !
Kali ini saya akan membahas tentang refleksi saya terhadap modul 2.3, Coaching Untuk Supervisi Akademik.
Facts (Peristiwa)
Di minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran pada modul 2.3 dimulai dengan merefleksikan diri saya tentang supervisi di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara, selanjutnya masuk eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik.
Selanjutnya membahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching , disini dipelajari alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif serta keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching.
Pada kegiatan ruang kolaborasi kami diminta untuk praktik coaching dengan rekan sesama CGP, pada tahap rukol diskusi masih terasa sekali bahwa coaching yang dilakukan sangat kaku dan kurang dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan berbobot, kemudian pada kegiatan rukol keesokan harinya sedikit lebih baik dari sebelumnya karena alur TIRTA sudah mulai terstruktur dan terarah dan sedikit muncul pertanyaan yang berbobot meskipun masih jauh dari kata sempurna. Hal ini sangat wajar sekali dalam proses pembelajaran. Kemudian untuk aksi nyata CGP diminta untuk melaksanakan coaching dengan rekan sejawat di sekolah, dimulai dari tahap pra-observasi, observasi hingga tahap pasca-observasi. Hal ini merupakan pengalaman pertama bagi saya dalam mensupervisi guru di kelas, ternyata banyak sekali ilmu yang di dapat dari kegiatan pada modul 2.3 ini.
.png)
Feelings (Perasaan)
Saya antusias dan sangat semangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya menjadi begitu penasaran di awalnya bagaimana menjadi coach yang baik, dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul ini sehingga membuat kami menjadi lebih terlatih dalam kegiatan coaching. Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik.
Findings (Pembelajaran)
Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. memberi saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coach yang baik dan bagaimana melakukan supervisi akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat. Kemudian kami diminta untuk membuat koneksi antar materi yang pernah didapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervisi akademik, di modul ini juga saya mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantunya mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat.
Future (Penerapan)
Dalam penerapannya, teknik coaching ini bukan hanya dapat digunakan dalam proses pembelajaran atau permasalahan di sekolah, namun juga dapat kita terapkan dalam kehidupan rumah tangga dengan suami, anak bahkan dengan orang tua. Coaching juga bukan hanya dengan sesama guru, tapi juga dapat kita praktikkan pada siswa yang mempunyai permasalahan. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya saya berharap praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehingga semua mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain.
Video koneksi antar materi modul 2.3 :
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar