Rabu, 26 Oktober 2022

Jurnal Refleksi Modul 3.1 (Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin) - Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V

 Assalamualaikum wr.wb

Salam Bahagia bapak-ibu guru hebat!

Pada kesempatan kali ini saya akan menuliskan jurnal refleksi saya pada modul 3.1.


PERISTIWA (FACTS)

    Modul ini dimulai dengan mulai dari diri dan eksplorasi konsep. Menjalin komunikasi dan berdiskusi dengan rekan sejawat, berbagi wawasan bagaimana memahami dilema etika dan bujukan moral, berbagi pengalaman dan membantu mencarikan solusi dari permasalahan dilema etika yang dihadapi rekan sejawat dengan mengaplikasikan 9 langkah pengambilan keputusan yang berpihak pada murid.
Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika kita harus dihadapkan pada dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Ada 4 paradigma pengambilan keputusan yaitu :
Individu vs community
Keadilan (justice) vs rasa kasihan (honesty)
Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Disamping itu pada modul ini dikenalkan 3 prinsip pengambilan keputusan :
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking),
Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking),
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

Sebelum menentukan keputusan yang baik bagi sesama harus ditempuh 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan:
1. mengenali nilai-nilai yang bertentangan,
2. menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut,
3. mengumpulkan fakta yang relevan,
4. melakukan pengujian benar atau salah dengan uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran dan uji panutan,
5. pengujian paradigma benar lawan benar,
6. melakukan prinsip pengambilan keputusan,
7. investigasi opsi trilemma,
8. membuat keputusan,
9. melihat kembali keputusan dan melakukan refleksi.
    Pada aksi nyata modul ini, kami diminta untuk mewawancarai beberapa kepala sekolah dan mendiskusikan tentang permasalahan-permasalahan yang pernah beliau hadapi selama menjabat sebagai kepala sekolah dan bagaimana mereka menghadapi dan mengatasi masalah tersebut.

PERASAAN (FEELINGS)

    Perasaan saya ketika dihadapkan pada suatu masalah yaitu sangat tertantang karena kita harus paham masalah tersebut merupakan dilema etika atau bujukan moral. Kemudian pada pengambilan keputusan ini juga kita menggolongkan problem tersebut termasuk pada paradigma apa dari 4 paradigma yang ada , Kemudian prinsip apa yang kita terapkan serta menguji keputusan yang kita buat dengan 9 langkah pengambilan serta pengujian keputusan.

    Pada kegiatan wawancara beberapa kepala sekolah saya sangat senang sekali karena saya dapat mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman beliau. Kepala sekolah yang telah saya wawancarai yaitu Bapak Tupardi,S.Pd kepala sekolah di SD Negeri Pauh dan juga Bapak Suratman,M.Pd kepala sekolah dari SMP Negeri 5 Tungkal Jaya.



PEMBELAJARAN (FINDINGS)
    Saya sangat bersyukur dengan mengikuti program Pendidikan Guru Penggerak ini setidaknya saya mengenal perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan di mana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah.
Dampak mempelajari materi ini buat saya sangat berarti, setelah mempelajari ada perubahan cara berpikir dalam mengambil keputusan, bahwa keputusan tersebut harus menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan serta pengujian keputusan.

    
    Dari sharing pengalaman Kepala sekolah dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan di sekolah, saya mengambil beberapa pembelajaran, diantaranya yaitu dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mempertimbangkan matang-matang terlebih dahulu akan sebab akibat yang akan terjadi kedepannya jika kita sebagai pemimpin mengambil keputusan ini. Karena keputusan kepala sekolah dapat berdampak untuk semua warga sekolah itu sendiri. Kemudian untuk permasalahan yang kompleks dan perlu di diskusikan dengan pihak lain maka kepala sekolah dapat melakukan pertemuan dengan para guru untuk membuat keputusan bersama.


PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)
    Aksi nyata ini sangat penting sekali sebagai bekal dan melatih diri untuk pengambilan keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin. Untuk kedepannya saya dapat lebih berhati-hati lagi dalam pengambilan keputusan, apalagi jika keputusan tersebut dapat berpengaruh besar terhadap orang banyak.

Adapun koneksi antar materi pada modul ini yaitu :



Rabu, 12 Oktober 2022

Jurnal Refleksi Modul 2.3 (Coaching Untuk Supervisi Akademik) - Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5

 Assalamualaikum wr.wb

Salam Bahagia Bapak-Ibu Guru Hebat !

Kali ini saya akan membahas tentang refleksi saya terhadap modul 2.3, Coaching Untuk Supervisi Akademik.

Facts (Peristiwa)

    Di minggu ini ada beberapa aktivitas pembelajaran pada modul 2.3 dimulai dengan merefleksikan diri saya tentang supervisi di sekolah saya, kemudian masuk ke eksplorasi konsep membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara, selanjutnya masuk  eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervise akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. 

    Selanjutnya membahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching , disini dipelajari alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif serta keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching.

    Pada kegiatan ruang kolaborasi kami diminta untuk praktik coaching dengan rekan sesama CGP, pada tahap rukol diskusi masih terasa sekali bahwa coaching yang dilakukan sangat kaku dan kurang dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan berbobot, kemudian pada kegiatan rukol keesokan harinya sedikit lebih baik dari sebelumnya karena alur TIRTA sudah mulai terstruktur dan terarah dan sedikit muncul pertanyaan yang berbobot meskipun masih jauh dari kata sempurna. Hal ini sangat wajar sekali dalam proses pembelajaran. Kemudian untuk aksi nyata CGP diminta untuk melaksanakan coaching dengan rekan sejawat di sekolah, dimulai dari tahap pra-observasi, observasi hingga tahap pasca-observasi. Hal ini merupakan pengalaman pertama bagi saya dalam mensupervisi guru di kelas, ternyata banyak sekali ilmu yang di dapat dari kegiatan pada modul 2.3 ini. 


Feelings (Perasaan)


    Saya antusias dan sangat semangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya menjadi begitu penasaran di awalnya bagaimana menjadi coach yang baik, dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul ini sehingga membuat kami menjadi lebih terlatih dalam kegiatan coaching. Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik.


Findings (Pembelajaran)


    Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. memberi saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coach yang baik dan bagaimana melakukan supervisi akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat. 
Kemudian kami diminta untuk membuat koneksi antar materi yang pernah didapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervisi akademik, di modul ini juga saya mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantunya mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat.


Future (Penerapan)


    Dalam penerapannya, teknik coaching ini bukan hanya dapat digunakan dalam proses pembelajaran atau permasalahan di sekolah, namun juga dapat kita terapkan dalam kehidupan rumah tangga dengan suami, anak bahkan dengan orang tua. Coaching juga bukan hanya dengan sesama guru, tapi juga dapat kita praktikkan pada siswa yang mempunyai permasalahan. Oleh karena itu, coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Selanjutnya saya berharap praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehingga semua mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain.

Video koneksi antar materi modul 2.3 :



Rabu, 28 September 2022

Jurnal Refleksi Modul 2.2 - Kompetensi Sosial Emosional

 Assalamualaikum wr.wb

Salam Bahagia Bapak Ibu Guru Hebat !

Berikut ini refleksi saya terkait pembelajaran modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional


Facts (Peristiwa)

    Kegiatan pembelajaran pada program guru penggerak menggunakan alur "MERDEKA" dimana calon guru penggerak akan melalui tahapan Mulai Diri yang mengukur pengetahuan awal CGP terkait materi yang akan dipelajari. Tahap demi tahap harus dilalui dengan urut agar semua materi dapat dipelajari dan dipahami secara maksimal. 

    Kegiatan pembelajaran pada modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional, KSE ini memasuki tahap akhir. Saya mengikuti kegiatan Elaborasi Pemahaman bersama instruktur dan sesama CGP lainnya. Pada rencana aksi nyata, saya telah membuat RPP yang terintegrasi dengan pembelajaran berdiferensiasi dan KSE. Dalam elaborasi pemahaman, saya memperoleh tambahan informasi dan contoh-contoh yang menguatkan pemahaman pada KSE. Ketika membuat koneksi antar materi, saya membaca kembali materi KSE, mencermati video, tugas ruang kolaborasi, dan RPP yang sudah dibuat, sehingga memperoleh gambaran utuh mengenai KSE dan kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi.


Feelings (Perasaan)

    Penerapan Kompetensi Sosial dan Emosional dalam pembelajaran di kelas merupakan hal baru bagi saya, meskipun sebenarnya tanpa disadari, sebelum mempelajari modul ini saya pribadi, sesekali pernah melakukan teknik STOP untuk meningkatkan kesadaran penuh siswa. Namun dahulu saya belum memahami bahwa ini merupakan praktik KSE. 

    Untuk menambah pengetahuan saya tentang KSE saya mengikuti elaborasi pemahaman, membaca beberapa contoh penerapan KSE di kelas, dan berdiskusi dengan rekan CGP. Hal-hal tersebut membuat saya merasa lebih siap, tidak bingung lagi untuk menerapkan KSE di kelas. Saya antusias ketika mengikuti alur pembelajaran di modul PSE, dan bersemangat untuk menerapkan KSE dalam pembelajaran di kelas. 


Findings (Pembelajaran)

    Banyak sekali Pembelajaran yang saya dapatkan pada modul ini, dari hasil ruang kolaborasi dengan fasilitator dan rekan CGP membuat saya lebih memahami PSE. Pengalaman dari instruktur yang dibagikan kepada CGP membuat saya mendapat inspirasi tentang penerapan KSE di kelas. Saya mendapat inspirasi berupa contoh-contoh yang dapat saya modifikasi dan adaptasi untuk diterapkan. 

    Saya juga mendapat pembelajaran berupa mencoba praktik teknik STOP bersama instruktur selama pembelajaran. Melalui proses pembelajaran ini, saya menyadari bahwa KSE sangat diperlukan oleh guru untuk melakukan berbagai kegiatan dan untuk mengoptimalkan potensi siswa.


Future (Penerapan)

    Dengan mempelajari modul PSE, saya dapat mengenali perasaan, mengelola diri, memahami orang lain, membangun komunikasi, dan mengambil keputusan dengan lebih baik. Sehingga, saya berharap saya  mampu melaksanakan pembelajaran, kegiatan sekolah, kegiatan di masyarakat, dan di keluarga dengan lebih baik, responsive, dan bertanggung jawab. Melalui penerapan KSE, saya yakin siswa akan menjadi orang yang mampu menghadapi masalah, menemukan solusi atas masalahnya, dan menjadi orang yang berkarakter baik.

Berikut ini video Koneksi Antar Materi Modul 2.2 :



Minggu, 18 September 2022

Pelatihan Google Master Trainee Level 2

 Assalamualaikum wr.wb

Pada blog ini saya mau menceritakan bagaimana perjalanan saya hingga bisa menjadi peserta GMT Level 2.



Selasa, 13 September 2022

Jurnal Refleksi Modul 2.1 (Pembelajaran Berdiferensiasi) - Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5

 Assalamualaikum wr.wb

Salam dan bahagia bapak ibu guru hebat dimanapun berada.

Berikut ini Jurnal refleksi saya selama mengikuti pembelajaran di Modul 2.1 Merefleksikan diri merupakan bagian penting bagi kita untuk melihat sejauh mana potensi yang sudah kita miliki, hal apa yang perlu diperbaiki dan perlu ditingkatkan agar ke depannya kita dapat meningkatkan kompetensi diri. 

Peristiwa

    Perjalanan mempelajari modul 2.1 merupakan kelanjutan dari modul sebelumnya yaitu modul 1. Kegiatan diawali dengan pre-test untuk melihat kemampuan awal CGP. Pembelajaran menggunakan alur MERDEKA (Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata). 

    Mulai dari diri merupakan awal untuk mempersiapkan diri dalam menerima pengetahuan baru pada modul 2.1, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi konsep pemikiran kita dari modul yang sudah dipelajari, diskusi dengan rekan CGP dalam ruang kolaborasi untuk menemukan kesamaan persepsi serta saling memberi masukan konstruktif dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi, secara mandiri menyusun RPP berdiferensiasi diunggah di LMS untuk mendapat umpan balik dari sesama CGP dan fasilitator, mendapat penguatan dari narasumber dalam elaborasi pemahaman, membuat keterkaitan dengan materi sebelumnya yang sudah dipelajari, dan diakhiri dengan aksi nyata praktik pembelajaran berdiferensiasi di kelas sesuai dengan RPP yang sudah dibuat.  

Diagram Frayer :

Perasaan

    Pada modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi ini, saya baru sadar bahwa sistem mengajar saya selama ini masih kurang tepat. Karena kita hanya berfokus pada ketercapaian materi kurikulum, sehingga yang saya kejar adalah ketuntasan materi tanpa memperhatikan apakah semua siswa sudah memahami materi tersebut atau belum. Selama ini, model pembelajaran yang kita pakai di kelas selalu sama untuk semua siswa, namun setelah mempelajari modul ini saya baru paham bahwa dalam menyampaikan materi pun kita harus memperhatikan cara belajar siswa di kelas yang tentunya berbeda-beda. Kita harus lebih kreatif dalam memilih model dan teknik penyampaian materi agar semua siswa dapat merasakan kemudahan saat belajar karena model pembelajarannya sesuai dengan gaya belajar mereka. 
    Dalam kegiatan ruang kolaborasi, banyak sekali ilmu dan pengalaman yang saya dapat dari kegiatan sharing dengan rekan CGP yang lain. Di kegiatan inilah kita bisa sharing dengan rekan CGP tentang strategi-strategi penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.





Pembelajaran

    Pembelajaran berdiferensiasi didesain agar guru bisa melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan belajar murid. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid.

    Modul ini mempunyai koneksi dengan materi pada modul-modul sebelumnya, semua terangkum dalam video yang telah saya buat. Bisa di lihat pada video berikut ini :



Penerapan

    Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat diselenggarakan secara efektif, maka perlu pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar murid, agar guru dapat menentukan perbedaan konten, proses, serta produk dalam kegiatan pembelajaran. Data pemetaan bisa diperoleh dari data murid pada tahun/semester sebelumnya, melalui angket, melalui pengamatan, atau wawancara dengan sesama rekan guru dan wali murid. Bagi saya ini merupakan pengetahuan baru, sehingga dalam penerapannya di kelas tidak semudah yang kita bayangkan. Pengalaman yang saya alami yaitu jika kita hanya mengandalkan angket gaya belajar, hal itu tidak bisa menjadi satu-satunya acuan dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. karena bisa jadi dalam mengisi angket, anak masih belum menyadari apa kebutuhan dirinya. Maka sebaiknya kita juga perlu melakukan pengamatan di kelas tentang gaya belajar ini, bisa juga dengan berdiskusi dengan rekan guru yang lain bahkan dengan orang tuanya.



Semangat untuk kita semua bapak ibu guru, mari ikut berkontribusi dalam transformasi pendidikan di Indonesia, murid kita sekarang adalah aset yang kelak menjadi pemimpin bangsa.

Rabu, 10 Agustus 2022

Jurnal Refleksi Modul 1.4 (Budaya Positif) - Calon Guru Penggerak Angkatan V

 Budaya Positif


Setelah mempelajari modul 1.1, 1.2, dan 1.3, tentunya kita sudah memahami bahwa sebagai pendidik, kita diibaratkan sebagai seorang petani yang memiliki peranan penting untuk menjadikan tanamannya tumbuh subur.  Kita juga akan memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya tanaman adalah tanah yang cocok untuk ditanami. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa,

“…kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya.” (Lampiran 1. Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937)

PERISTIWA (FACT)

Momen paling berkesan selama mempelajari modul 1 adalah modul 1.4. tentang budaya positif. Banyak hal yang ditemukan dan dikoneksikan dengan pengalaman selama proses mengemban amanah menjadi seorang guru.

Disiplin positif, merupakan sebuah tanggung jawab dalam proses mendidik murid di sekolah. Penerapannya tentu harus berkolaborasi dengan seluruh pihak: menanamkan keteladanan dan kesadaran bahwa disiplin melatih kita untuk bertanggung jawab dan menghargai suatu hal.
Teori kontrol, motivasi, hukuman, dan penghargaan, bahwa sebagai guru kita harus bisa menempatkan diri dan waktu yang tepat dalam menerapkan motivasi termasuk didalamnya penghargaan dan hukuman. Motivasi instrinsik adalah focus utama yang harus dibangun karena jika dalam diri siswa telah tertanam nilai-nilai kebajikan maka bukan hanya instrinsiknya yang berubah, ekstrinsik nya juga menjadi lebih baik lagi.
Posisi kontrol guru, ada lima posisi dalam kontrol budaya positif yaitu posisi penguhukum, pembuat merasa bersalah, teman, pemantau, manajer. Dari kelima posisi kontrol guru posisi manajer adalah paling ideal, karena ketika guru sudah di posisi ini, ia sudah bisa menempatkan diri sebagai teman dan pemantau untuk mewujudkan identitas yang berhasil.
Kebutuhan dasar manusia ada lima, kesenangan, penguasaan, kasih sayang dan diterima,  kebebasan, dan bertahan hidup. Tolok ukur bahagia seseorang ketika kelima kebutuhan dasarnya telah terpenuhi dengan baik.
Keyakinan kelas, merupakan sebuah gagasan yang diyakini oleh kelas dengan penuh kepercayaan yang berasal dari hati dan sukarela atau senang hati melaksanakan keyakinan yang dibuat. Dalam membuat keyakinan kelas kita terlebih dahulu meminta siswa menuliskan apa saja keyakinan dari hatinya akan apa yang dapat mereka pertanggung jawabkan. kemudian dari beberapa keyakinan yang dibuat oleh masing-masing siswa ini, kita rangkum menjadi keyakinan kelas yang nantinya dapat menjadi keyakinan semua orang yang ada di kelas tersebut dan dilaksanakan dengan penuh rasa yakin dan tanggung jawab.


Segitiga restitusi merupakan tahapan penyelesaian konflik atau masalah dalam penerapan budaya positif. Langkahnya: menstabilkan identitas (stabilize identity), validasi Tindakan yang salah (validation of unbehaviour), dan menanyakan keyakinan (seek the belief).


PERASAAN (FEEL)

    Perasaan yang saya rasakan setelah mempelajari modul ini yaitu, saya merasa sedikit bersalah kepada siswa-siswa saya karena selama ini saya sering memberikan hukuman kepada siswa bermasalah maupun pemberian reward atau hadiah kepada siswa yang berprestasi atau melakukan sesuatu kebaikan. Hal tersebut sebelumnya kita lakukan agar siswa termotivasi untuk terus berprestasi dan melakukan nilai-nilai kebajikan, namun setelah mempelajari modul ini saya baru sadar bahwa hal itu hanya berdampak pada ekstrinsik siswa, bukan pada intrinsik nya. kemungkinan siswa tersebut hanya akan bersemangat jika ada iming-iming hadiah saja, jika suatu saat hadiah tersebut tidak ada lagi kemungkinan siswa tersebut tidak akan termotivasi lagi untuk melakukan hal-hal kebajikan. Lain hal nya jika unsur instrinsik siswa tersebut yang telah meyakini bahwa nilai-nilai kebajikan yang mereka lakukan dapat mempengaruhi untuk kebaikan dirinya maupun orang lain, maka tanpa iming-iming hadiah pun dia akan melaksanakan nilai-nilai kebajikan tersebut tulus dari hatinya tanpa paksaan darimana pun.

PEMBELAJARAN (FIND)

    Dalam Modul 1.4. ini yang telah dipelajari yaitu bagaimana cara dalam mewujudkan budaya positif di sekolah. Dimulai dari diri sendiri, jadilah role model yang baik di sekolah sehingga baik guru maupun siswa akan mengikuti cara kita dalam berperilaku dan bersikap sehingga budaya postif dapat dilaksanakan di sekolah. Ruang kolaborasi diskusi kelompok Ruang Kolaborasi Modul 1.4 Demonstrasi kontekstual, membuat sebuah video sederhana tentang skenario segitiga restitusi Link Youtube:  Praktik Segitiga Restitusi

Koneksi Antar materi : Koneksi Antar Materi


PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)
    
    Di dalam kelas saya selalu berusaha agar suasana di kelas tidak tegang, ada kalanya kita serius ada kalanya juga kita mengendurkan sedikit urat kita. ketika saya meminta siswa untuk menjawab pertanyaan atau maju ke depan kelas, saya selalu memotivasi mereka dan memberikan himbauan kepada mereka untuk tidak takut salah dalam menjawab sesuatu, karena membuat kesalahan adalah wajar ketika sedang belajar. saya melakukan semua hal tersebut dengan harapan semua siswa tidak ada yang terbebani dengan materi-materi pembelajaran yang rumit, yang harus mereka jawab dengan benar saat proses pembelajaran berlangsung. sehingga siswa merasa nyaman berada di kelas saya dengan tetap mematuhi kesepakatan yang telah dibuat bersama.Menurut saya menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah sangat penting. Karena lingkungan sangat mempengaruhi
pribadi seseorang,jika siswa berada di lingkungan yang positif maka insyaAllah akan membentuk pribadi yang positif
pula,begitupun sebaliknya. sebagai pendidik kita harus paham akan pentingnya menjaga lingkungan belajar yang
kondusif, karena akan membuat anak senang dalam belajar. dan akhirnya proses pembelajaran akan terlangsung
dengan lancar dan menyenangkan. Lingkungan dan suasana yang menyenangkan akan membuat siswa bahagia dan
tidak tertekan saat menerima pembelajaran sehingga materi yang kita berikan pun akan mudah diterima oleh siswa
    Sebagai seorang pendidik yang saya lakukan selama ini yaitu saya berusaha agar siswa merasa bahwa saya "friendly" kepada mereka. Saya tidak bersikap seolah-saya ini guru yang benar-benar harus ditakuti oleh siswa. Saya lebih mendekatkan diri kepada mereka sehingga mereka tidak takut ataupun canggung ketika mereka ada kendala di kelas. Saya posisikan saya sebagai pendidik yang juga dapat menjadi teman curhat mereka,menjadi kakak mereka dan juga orangtua mereka. Namun tentunya tetap dalam batasan-batasan wajar. Selama ini saya merasakan hal tersebut membawa pengaruh positif terhadap interaksi saya dengan siswa. Karena mereka merasa friendly atau BESTie dengan saya maka setiap kali saya masuk kelas mereka terlihat senang dan tidak tertekan dalam menerima pelajaran. Merekapun tidak takut untuk bertanya maupun memberikan pendapat kepada saya disaat jam pelajaran maupun diluar kelas.
    Menciptakan suasana yang positif sangat perhubungan dan berpengaruh terhadap pembelajaran yang berpihak pada murid. Sepert yang saya katakan tadi pada pertanyaan sebelumnya bahwa sebagai pendidik kita harus membuat suasana yang positif dan kondusif serta memposisikan diri kita sebagai guru yang "friendly" kepada mereka. Sehingga siswa merasa nyaman dan tidak takut untuk menyampaikan ide,gagasan dan berpikir kritis serta menyampaikannya kepada guru. Hal ini sangat berpengaruh pada hasil pembelajaran siswa,karena semakin siswa berperan aktif dalam pembelajaran maka materi yang tersampaikan pun akan lebih baik.
    Penerapan disiplin saat ini di sekolah saya sudah semakin membaik. saya sudah mulai menerapkan pembuatan kesepakatan kelas dengan para siswa jadi siswa dan guru sudah mempunyai kesepakatan bersama yang akan dipatuhi selama pembelajaran berlangsung. sehingga apabila melanggar maka sudah siap menerima konsekuensi dari kesepakatan tersebut. saya sudah menginformasikan dan mengajak guru-guru lain juga untuk menerapkan hal tersebut, dari yang saya lihat saat ini masih belum ada yang meniru cara tersebut. guru terlihat masih nyaman dengan pemberian hukuman kepada siswa. kedepannya, saya akan memusyawarahkan kembali kepada semua guru dan kepala sekolah. Mungkin bahkan dengan mengundang wali siswa/komite dalam penerapan kesepakatan sekolah dan pentingnya dibuat kesepakatan sekolah tersebut.
    Sekolah impian saya yaitu sekolah yang dimana di dalamnya itu saya merasa nyaman,tenang,seperti saya sedang berada dirumah saya sendiri. saya harapkan sekolah benar-benar menjadi rumah kedua saya. dalam impian saya, guru-guru di sekolah selalu saling menebarkan aura positif pada sesama guru, karyawan dan kepada semua siswa. saya membayangkan betapa menyenangkannya jika di dalam sekolah saya ini rasa kekeluargaannya benar-benar muncul, masing-masing guru tidak ada yang mencari kesalahan dari guru yang lain. saling merangkul bukan memukul. saya bayangkan,betapa bahagianya ketika pagi hari datang ke sekolah rekan-rekan guru dapat hadir di sekolah dengan tepat waktu, saling berjabat tangan antar guru dan siswa bersalaman kepada semua guru yang ada. kemudian saat jam pelajaran dimulai, tanpa diperintah semua guru masuk ke kelasnya masing-masing mendidik siswa sebagaimana mestinya. di dalam kelas, siswa merasakan bahagia diajar oleh guru-guru yang terus memotivasi mereka untuk terus menggali potensi siswa.

    Harapan-harapan :

    Hal yang saya harapkan berkembang pada diri saya yaitu saya dapat menjadi pemimpin dimana saya dapat menjadi contoh atau role model yang baik bagi para guru-guru yang lain. saya berharap diri saya dapat terus berkomitmen untuk menjadi guru yang disiplin dan tegas sehingga tidak ada celah bagi guru lain untuk mencari kesalahan saya. Saya harap saya dapat menjadi penengah ketika ada guru yang berselisih paham dengan guru yang lain, saya sangat ingin mempunyai jiwa pemimpin yang bijaksana bukan pemimpin yang ditakuti namun pemimpin yang dapat merangkul semua pihak. Di dalam pembelajaran di kelas, saya harap saya dapat terus mengembangkan kreatifitas saya dalam membuat bahan-bahan ajar atau menerapkan model-model ajar yang kreatif dan menarik serta dapat menggali potensi yang ada pada diri siswa. karena terkadang saya kekurangan ide untuk membuat pembelajaran saya ini lebih menarik minat siswa. saya perlu mengembangkan diri saya di bidang IT dan public speaking untuk membuat pembelajaran saya lebih baik lagi
    Harapan saya terhadap perkembangan pada murid-murid saya yaitu saya berharap potensi yang ada pada diri mereka dapat terus kami gali lagi dan motivasi mereka untuk lebih dapat mengembangkan minat dan bakat mereka dengan mengikutsertakan mereka pada berbagai macam lomba yang ada. Kemudian, tak hanya itu saja. saya sangat berharap peserta didik saya dapat terus menjaga attitude mereka, menanamkan jiwa yang berakhlak mulia, beriman dan bertaqwa kepada yang maha kuasa, menjaga sikap untuk tetap menjaga 5S (senyum,sapa,salam,sopan,santun)
    Saya harapkan setelah mempelajari modul ini saya dapat mengetahui bagaimana cara saya untuk memulai mempraktikkan budaya positif di sekolah, menjaga budaya tersebut dan terus melestarikan budaya positif tersebut di sekolah saya sehingga sekolah saya menjadi lingkungan yang positif dan menghasilkan orang-orang yang positif pula.


Rabu, 27 Juli 2022

Jurnal Refleksi Modul 1.3 - Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V

 Visi Guru Penggerak


Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri.

Pendidik hanya dapat merawat dan menuntuntumbuhnya kodrat itu.”


bagaimana kita sebagai guru dapat mendesain lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid yang memiliki kemandirian dan motivasi intrinsik yang tinggi? 

Maka atas pertanyaan itulah, guru perlu terus berlatih meningkatkan kapasitas dirinya dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng sesama dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama. Dari sana, baru kemudian dilanjutkan dengan segala upaya gotong-royong yang diperlukan demi pencapaian harapan bersama tersebut. Harapan kita adalah visi kita. Visi kita sekarang adalah masa depan murid kita. Masa depan murid kita adalah masa depan bangsa kita, Indonesia.


BAGJA

B-Buat Pertanyaan utama (Define)

Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah penyelidikan kekuatan/potensi/ peluang; mendefinisikan tujuan; pertanyaan dibuat untuk memprovokasi/ menginisiasi perubahan (prakarsa)


A-mbil pelajaran (Discover)

Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/peluang lewat penyelidikan; mengidentifikasi/ mengapresiasi yang terbaik dari apa yang telah ada, menemukan "inti positif"; setiap pertanyaan dibuat dengan hati-hati dan sifatnya positif


G-ali mimpi (Dream)

menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud ● membayangkan dan menggambarkan masa depan ● gambaran masa depan dimunculkan dari contoh-contoh yang membumi dari masa lalu yang positif ● mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multi unsur (kapan, di mana, siapa saja).


J-abarkan Rencana (Design)

Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera, dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian; ● Menciptakan organisasi yang ideal demi mencapai mimpi; ● Mempertahankan perubahan positif, atau menindaklanjuti masa lalu organisasi yang paling positif dan potensial ● Menyusun definisi kesuksesan pencapaian bertahap


A-tur eksekusi (Deliver) 

Menentukan siapa yang berperan dalam pengambilan keputusan; ● Merupakan awal dari penciptaan ‘budaya belajar apresiatif’ yang berkelanjutan; ● Menyelaraskan interaksi setiap orang (unsur) terlibat agar dapat bersama-sama menciptakan (co-create) masa depan ● Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: protokol/SOP, knowledge management, monev/refleksi)



Ruang Kolaborasi

Pada Kegiatan Ruang Kolaborasi kami di minta untuk membuat visi Bersama.


Berikut ini hasil dari kerja kelompok kami : Creating The Same Goals

Demonstrasi Kontekstual

Pada kegiatan demonstrasi kontekstual kami diminta untuk membuat BAGJA dari prakarsa perubahan yang akan diterapkan di sekolah masing-masing. Dengan tahapan BAGJA maka prakarsa perubahan yang ingin kita laksanakan lebih terarah dan terkonsep.

Aksi Nyata 
Pada tahap aksi nyata, kami diminta untuk merancang / membuat imajinasi harapan tentang murid di masa depan. 
Berikut ini link youtube aksi nyata yang telah saya buat :

Transformasi Pembelajaran Melalui Difusi dan Inovasi: Menuju Masa Depan Pendidikan

Pendidikan adalah pilar utama dalam pembangunan suatu masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, metode pembelajaran juga perlu terus be...