Rabu, 28 September 2022

Jurnal Refleksi Modul 2.2 - Kompetensi Sosial Emosional

 Assalamualaikum wr.wb

Salam Bahagia Bapak Ibu Guru Hebat !

Berikut ini refleksi saya terkait pembelajaran modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional


Facts (Peristiwa)

    Kegiatan pembelajaran pada program guru penggerak menggunakan alur "MERDEKA" dimana calon guru penggerak akan melalui tahapan Mulai Diri yang mengukur pengetahuan awal CGP terkait materi yang akan dipelajari. Tahap demi tahap harus dilalui dengan urut agar semua materi dapat dipelajari dan dipahami secara maksimal. 

    Kegiatan pembelajaran pada modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional, KSE ini memasuki tahap akhir. Saya mengikuti kegiatan Elaborasi Pemahaman bersama instruktur dan sesama CGP lainnya. Pada rencana aksi nyata, saya telah membuat RPP yang terintegrasi dengan pembelajaran berdiferensiasi dan KSE. Dalam elaborasi pemahaman, saya memperoleh tambahan informasi dan contoh-contoh yang menguatkan pemahaman pada KSE. Ketika membuat koneksi antar materi, saya membaca kembali materi KSE, mencermati video, tugas ruang kolaborasi, dan RPP yang sudah dibuat, sehingga memperoleh gambaran utuh mengenai KSE dan kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi.


Feelings (Perasaan)

    Penerapan Kompetensi Sosial dan Emosional dalam pembelajaran di kelas merupakan hal baru bagi saya, meskipun sebenarnya tanpa disadari, sebelum mempelajari modul ini saya pribadi, sesekali pernah melakukan teknik STOP untuk meningkatkan kesadaran penuh siswa. Namun dahulu saya belum memahami bahwa ini merupakan praktik KSE. 

    Untuk menambah pengetahuan saya tentang KSE saya mengikuti elaborasi pemahaman, membaca beberapa contoh penerapan KSE di kelas, dan berdiskusi dengan rekan CGP. Hal-hal tersebut membuat saya merasa lebih siap, tidak bingung lagi untuk menerapkan KSE di kelas. Saya antusias ketika mengikuti alur pembelajaran di modul PSE, dan bersemangat untuk menerapkan KSE dalam pembelajaran di kelas. 


Findings (Pembelajaran)

    Banyak sekali Pembelajaran yang saya dapatkan pada modul ini, dari hasil ruang kolaborasi dengan fasilitator dan rekan CGP membuat saya lebih memahami PSE. Pengalaman dari instruktur yang dibagikan kepada CGP membuat saya mendapat inspirasi tentang penerapan KSE di kelas. Saya mendapat inspirasi berupa contoh-contoh yang dapat saya modifikasi dan adaptasi untuk diterapkan. 

    Saya juga mendapat pembelajaran berupa mencoba praktik teknik STOP bersama instruktur selama pembelajaran. Melalui proses pembelajaran ini, saya menyadari bahwa KSE sangat diperlukan oleh guru untuk melakukan berbagai kegiatan dan untuk mengoptimalkan potensi siswa.


Future (Penerapan)

    Dengan mempelajari modul PSE, saya dapat mengenali perasaan, mengelola diri, memahami orang lain, membangun komunikasi, dan mengambil keputusan dengan lebih baik. Sehingga, saya berharap saya  mampu melaksanakan pembelajaran, kegiatan sekolah, kegiatan di masyarakat, dan di keluarga dengan lebih baik, responsive, dan bertanggung jawab. Melalui penerapan KSE, saya yakin siswa akan menjadi orang yang mampu menghadapi masalah, menemukan solusi atas masalahnya, dan menjadi orang yang berkarakter baik.

Berikut ini video Koneksi Antar Materi Modul 2.2 :



Minggu, 18 September 2022

Pelatihan Google Master Trainee Level 2

 Assalamualaikum wr.wb

Pada blog ini saya mau menceritakan bagaimana perjalanan saya hingga bisa menjadi peserta GMT Level 2.



Selasa, 13 September 2022

Jurnal Refleksi Modul 2.1 (Pembelajaran Berdiferensiasi) - Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5

 Assalamualaikum wr.wb

Salam dan bahagia bapak ibu guru hebat dimanapun berada.

Berikut ini Jurnal refleksi saya selama mengikuti pembelajaran di Modul 2.1 Merefleksikan diri merupakan bagian penting bagi kita untuk melihat sejauh mana potensi yang sudah kita miliki, hal apa yang perlu diperbaiki dan perlu ditingkatkan agar ke depannya kita dapat meningkatkan kompetensi diri. 

Peristiwa

    Perjalanan mempelajari modul 2.1 merupakan kelanjutan dari modul sebelumnya yaitu modul 1. Kegiatan diawali dengan pre-test untuk melihat kemampuan awal CGP. Pembelajaran menggunakan alur MERDEKA (Mulai dari diri sendiri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata). 

    Mulai dari diri merupakan awal untuk mempersiapkan diri dalam menerima pengetahuan baru pada modul 2.1, kemudian dilanjutkan dengan eksplorasi konsep pemikiran kita dari modul yang sudah dipelajari, diskusi dengan rekan CGP dalam ruang kolaborasi untuk menemukan kesamaan persepsi serta saling memberi masukan konstruktif dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi, secara mandiri menyusun RPP berdiferensiasi diunggah di LMS untuk mendapat umpan balik dari sesama CGP dan fasilitator, mendapat penguatan dari narasumber dalam elaborasi pemahaman, membuat keterkaitan dengan materi sebelumnya yang sudah dipelajari, dan diakhiri dengan aksi nyata praktik pembelajaran berdiferensiasi di kelas sesuai dengan RPP yang sudah dibuat.  

Diagram Frayer :

Perasaan

    Pada modul 2.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi ini, saya baru sadar bahwa sistem mengajar saya selama ini masih kurang tepat. Karena kita hanya berfokus pada ketercapaian materi kurikulum, sehingga yang saya kejar adalah ketuntasan materi tanpa memperhatikan apakah semua siswa sudah memahami materi tersebut atau belum. Selama ini, model pembelajaran yang kita pakai di kelas selalu sama untuk semua siswa, namun setelah mempelajari modul ini saya baru paham bahwa dalam menyampaikan materi pun kita harus memperhatikan cara belajar siswa di kelas yang tentunya berbeda-beda. Kita harus lebih kreatif dalam memilih model dan teknik penyampaian materi agar semua siswa dapat merasakan kemudahan saat belajar karena model pembelajarannya sesuai dengan gaya belajar mereka. 
    Dalam kegiatan ruang kolaborasi, banyak sekali ilmu dan pengalaman yang saya dapat dari kegiatan sharing dengan rekan CGP yang lain. Di kegiatan inilah kita bisa sharing dengan rekan CGP tentang strategi-strategi penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.





Pembelajaran

    Pembelajaran berdiferensiasi didesain agar guru bisa melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan belajar murid. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid.

    Modul ini mempunyai koneksi dengan materi pada modul-modul sebelumnya, semua terangkum dalam video yang telah saya buat. Bisa di lihat pada video berikut ini :



Penerapan

    Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat diselenggarakan secara efektif, maka perlu pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar murid, agar guru dapat menentukan perbedaan konten, proses, serta produk dalam kegiatan pembelajaran. Data pemetaan bisa diperoleh dari data murid pada tahun/semester sebelumnya, melalui angket, melalui pengamatan, atau wawancara dengan sesama rekan guru dan wali murid. Bagi saya ini merupakan pengetahuan baru, sehingga dalam penerapannya di kelas tidak semudah yang kita bayangkan. Pengalaman yang saya alami yaitu jika kita hanya mengandalkan angket gaya belajar, hal itu tidak bisa menjadi satu-satunya acuan dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. karena bisa jadi dalam mengisi angket, anak masih belum menyadari apa kebutuhan dirinya. Maka sebaiknya kita juga perlu melakukan pengamatan di kelas tentang gaya belajar ini, bisa juga dengan berdiskusi dengan rekan guru yang lain bahkan dengan orang tuanya.



Semangat untuk kita semua bapak ibu guru, mari ikut berkontribusi dalam transformasi pendidikan di Indonesia, murid kita sekarang adalah aset yang kelak menjadi pemimpin bangsa.

Rabu, 10 Agustus 2022

Jurnal Refleksi Modul 1.4 (Budaya Positif) - Calon Guru Penggerak Angkatan V

 Budaya Positif


Setelah mempelajari modul 1.1, 1.2, dan 1.3, tentunya kita sudah memahami bahwa sebagai pendidik, kita diibaratkan sebagai seorang petani yang memiliki peranan penting untuk menjadikan tanamannya tumbuh subur.  Kita juga akan memastikan bahwa tanah tempat tumbuhnya tanaman adalah tanah yang cocok untuk ditanami. Ki Hadjar Dewantara menyatakan bahwa,

“…kita ambil contoh perbandingannya dengan hidup tumbuh-tumbuhan seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya.” (Lampiran 1. Dasar-Dasar Pendidikan. Keluarga, Th. I No.1,2,3,4., Nov, Des 1936., Jan, Febr. 1937)

PERISTIWA (FACT)

Momen paling berkesan selama mempelajari modul 1 adalah modul 1.4. tentang budaya positif. Banyak hal yang ditemukan dan dikoneksikan dengan pengalaman selama proses mengemban amanah menjadi seorang guru.

Disiplin positif, merupakan sebuah tanggung jawab dalam proses mendidik murid di sekolah. Penerapannya tentu harus berkolaborasi dengan seluruh pihak: menanamkan keteladanan dan kesadaran bahwa disiplin melatih kita untuk bertanggung jawab dan menghargai suatu hal.
Teori kontrol, motivasi, hukuman, dan penghargaan, bahwa sebagai guru kita harus bisa menempatkan diri dan waktu yang tepat dalam menerapkan motivasi termasuk didalamnya penghargaan dan hukuman. Motivasi instrinsik adalah focus utama yang harus dibangun karena jika dalam diri siswa telah tertanam nilai-nilai kebajikan maka bukan hanya instrinsiknya yang berubah, ekstrinsik nya juga menjadi lebih baik lagi.
Posisi kontrol guru, ada lima posisi dalam kontrol budaya positif yaitu posisi penguhukum, pembuat merasa bersalah, teman, pemantau, manajer. Dari kelima posisi kontrol guru posisi manajer adalah paling ideal, karena ketika guru sudah di posisi ini, ia sudah bisa menempatkan diri sebagai teman dan pemantau untuk mewujudkan identitas yang berhasil.
Kebutuhan dasar manusia ada lima, kesenangan, penguasaan, kasih sayang dan diterima,  kebebasan, dan bertahan hidup. Tolok ukur bahagia seseorang ketika kelima kebutuhan dasarnya telah terpenuhi dengan baik.
Keyakinan kelas, merupakan sebuah gagasan yang diyakini oleh kelas dengan penuh kepercayaan yang berasal dari hati dan sukarela atau senang hati melaksanakan keyakinan yang dibuat. Dalam membuat keyakinan kelas kita terlebih dahulu meminta siswa menuliskan apa saja keyakinan dari hatinya akan apa yang dapat mereka pertanggung jawabkan. kemudian dari beberapa keyakinan yang dibuat oleh masing-masing siswa ini, kita rangkum menjadi keyakinan kelas yang nantinya dapat menjadi keyakinan semua orang yang ada di kelas tersebut dan dilaksanakan dengan penuh rasa yakin dan tanggung jawab.


Segitiga restitusi merupakan tahapan penyelesaian konflik atau masalah dalam penerapan budaya positif. Langkahnya: menstabilkan identitas (stabilize identity), validasi Tindakan yang salah (validation of unbehaviour), dan menanyakan keyakinan (seek the belief).


PERASAAN (FEEL)

    Perasaan yang saya rasakan setelah mempelajari modul ini yaitu, saya merasa sedikit bersalah kepada siswa-siswa saya karena selama ini saya sering memberikan hukuman kepada siswa bermasalah maupun pemberian reward atau hadiah kepada siswa yang berprestasi atau melakukan sesuatu kebaikan. Hal tersebut sebelumnya kita lakukan agar siswa termotivasi untuk terus berprestasi dan melakukan nilai-nilai kebajikan, namun setelah mempelajari modul ini saya baru sadar bahwa hal itu hanya berdampak pada ekstrinsik siswa, bukan pada intrinsik nya. kemungkinan siswa tersebut hanya akan bersemangat jika ada iming-iming hadiah saja, jika suatu saat hadiah tersebut tidak ada lagi kemungkinan siswa tersebut tidak akan termotivasi lagi untuk melakukan hal-hal kebajikan. Lain hal nya jika unsur instrinsik siswa tersebut yang telah meyakini bahwa nilai-nilai kebajikan yang mereka lakukan dapat mempengaruhi untuk kebaikan dirinya maupun orang lain, maka tanpa iming-iming hadiah pun dia akan melaksanakan nilai-nilai kebajikan tersebut tulus dari hatinya tanpa paksaan darimana pun.

PEMBELAJARAN (FIND)

    Dalam Modul 1.4. ini yang telah dipelajari yaitu bagaimana cara dalam mewujudkan budaya positif di sekolah. Dimulai dari diri sendiri, jadilah role model yang baik di sekolah sehingga baik guru maupun siswa akan mengikuti cara kita dalam berperilaku dan bersikap sehingga budaya postif dapat dilaksanakan di sekolah. Ruang kolaborasi diskusi kelompok Ruang Kolaborasi Modul 1.4 Demonstrasi kontekstual, membuat sebuah video sederhana tentang skenario segitiga restitusi Link Youtube:  Praktik Segitiga Restitusi

Koneksi Antar materi : Koneksi Antar Materi


PENERAPAN KE DEPAN (FUTURE)
    
    Di dalam kelas saya selalu berusaha agar suasana di kelas tidak tegang, ada kalanya kita serius ada kalanya juga kita mengendurkan sedikit urat kita. ketika saya meminta siswa untuk menjawab pertanyaan atau maju ke depan kelas, saya selalu memotivasi mereka dan memberikan himbauan kepada mereka untuk tidak takut salah dalam menjawab sesuatu, karena membuat kesalahan adalah wajar ketika sedang belajar. saya melakukan semua hal tersebut dengan harapan semua siswa tidak ada yang terbebani dengan materi-materi pembelajaran yang rumit, yang harus mereka jawab dengan benar saat proses pembelajaran berlangsung. sehingga siswa merasa nyaman berada di kelas saya dengan tetap mematuhi kesepakatan yang telah dibuat bersama.Menurut saya menciptakan suasana positif di lingkungan sekolah sangat penting. Karena lingkungan sangat mempengaruhi
pribadi seseorang,jika siswa berada di lingkungan yang positif maka insyaAllah akan membentuk pribadi yang positif
pula,begitupun sebaliknya. sebagai pendidik kita harus paham akan pentingnya menjaga lingkungan belajar yang
kondusif, karena akan membuat anak senang dalam belajar. dan akhirnya proses pembelajaran akan terlangsung
dengan lancar dan menyenangkan. Lingkungan dan suasana yang menyenangkan akan membuat siswa bahagia dan
tidak tertekan saat menerima pembelajaran sehingga materi yang kita berikan pun akan mudah diterima oleh siswa
    Sebagai seorang pendidik yang saya lakukan selama ini yaitu saya berusaha agar siswa merasa bahwa saya "friendly" kepada mereka. Saya tidak bersikap seolah-saya ini guru yang benar-benar harus ditakuti oleh siswa. Saya lebih mendekatkan diri kepada mereka sehingga mereka tidak takut ataupun canggung ketika mereka ada kendala di kelas. Saya posisikan saya sebagai pendidik yang juga dapat menjadi teman curhat mereka,menjadi kakak mereka dan juga orangtua mereka. Namun tentunya tetap dalam batasan-batasan wajar. Selama ini saya merasakan hal tersebut membawa pengaruh positif terhadap interaksi saya dengan siswa. Karena mereka merasa friendly atau BESTie dengan saya maka setiap kali saya masuk kelas mereka terlihat senang dan tidak tertekan dalam menerima pelajaran. Merekapun tidak takut untuk bertanya maupun memberikan pendapat kepada saya disaat jam pelajaran maupun diluar kelas.
    Menciptakan suasana yang positif sangat perhubungan dan berpengaruh terhadap pembelajaran yang berpihak pada murid. Sepert yang saya katakan tadi pada pertanyaan sebelumnya bahwa sebagai pendidik kita harus membuat suasana yang positif dan kondusif serta memposisikan diri kita sebagai guru yang "friendly" kepada mereka. Sehingga siswa merasa nyaman dan tidak takut untuk menyampaikan ide,gagasan dan berpikir kritis serta menyampaikannya kepada guru. Hal ini sangat berpengaruh pada hasil pembelajaran siswa,karena semakin siswa berperan aktif dalam pembelajaran maka materi yang tersampaikan pun akan lebih baik.
    Penerapan disiplin saat ini di sekolah saya sudah semakin membaik. saya sudah mulai menerapkan pembuatan kesepakatan kelas dengan para siswa jadi siswa dan guru sudah mempunyai kesepakatan bersama yang akan dipatuhi selama pembelajaran berlangsung. sehingga apabila melanggar maka sudah siap menerima konsekuensi dari kesepakatan tersebut. saya sudah menginformasikan dan mengajak guru-guru lain juga untuk menerapkan hal tersebut, dari yang saya lihat saat ini masih belum ada yang meniru cara tersebut. guru terlihat masih nyaman dengan pemberian hukuman kepada siswa. kedepannya, saya akan memusyawarahkan kembali kepada semua guru dan kepala sekolah. Mungkin bahkan dengan mengundang wali siswa/komite dalam penerapan kesepakatan sekolah dan pentingnya dibuat kesepakatan sekolah tersebut.
    Sekolah impian saya yaitu sekolah yang dimana di dalamnya itu saya merasa nyaman,tenang,seperti saya sedang berada dirumah saya sendiri. saya harapkan sekolah benar-benar menjadi rumah kedua saya. dalam impian saya, guru-guru di sekolah selalu saling menebarkan aura positif pada sesama guru, karyawan dan kepada semua siswa. saya membayangkan betapa menyenangkannya jika di dalam sekolah saya ini rasa kekeluargaannya benar-benar muncul, masing-masing guru tidak ada yang mencari kesalahan dari guru yang lain. saling merangkul bukan memukul. saya bayangkan,betapa bahagianya ketika pagi hari datang ke sekolah rekan-rekan guru dapat hadir di sekolah dengan tepat waktu, saling berjabat tangan antar guru dan siswa bersalaman kepada semua guru yang ada. kemudian saat jam pelajaran dimulai, tanpa diperintah semua guru masuk ke kelasnya masing-masing mendidik siswa sebagaimana mestinya. di dalam kelas, siswa merasakan bahagia diajar oleh guru-guru yang terus memotivasi mereka untuk terus menggali potensi siswa.

    Harapan-harapan :

    Hal yang saya harapkan berkembang pada diri saya yaitu saya dapat menjadi pemimpin dimana saya dapat menjadi contoh atau role model yang baik bagi para guru-guru yang lain. saya berharap diri saya dapat terus berkomitmen untuk menjadi guru yang disiplin dan tegas sehingga tidak ada celah bagi guru lain untuk mencari kesalahan saya. Saya harap saya dapat menjadi penengah ketika ada guru yang berselisih paham dengan guru yang lain, saya sangat ingin mempunyai jiwa pemimpin yang bijaksana bukan pemimpin yang ditakuti namun pemimpin yang dapat merangkul semua pihak. Di dalam pembelajaran di kelas, saya harap saya dapat terus mengembangkan kreatifitas saya dalam membuat bahan-bahan ajar atau menerapkan model-model ajar yang kreatif dan menarik serta dapat menggali potensi yang ada pada diri siswa. karena terkadang saya kekurangan ide untuk membuat pembelajaran saya ini lebih menarik minat siswa. saya perlu mengembangkan diri saya di bidang IT dan public speaking untuk membuat pembelajaran saya lebih baik lagi
    Harapan saya terhadap perkembangan pada murid-murid saya yaitu saya berharap potensi yang ada pada diri mereka dapat terus kami gali lagi dan motivasi mereka untuk lebih dapat mengembangkan minat dan bakat mereka dengan mengikutsertakan mereka pada berbagai macam lomba yang ada. Kemudian, tak hanya itu saja. saya sangat berharap peserta didik saya dapat terus menjaga attitude mereka, menanamkan jiwa yang berakhlak mulia, beriman dan bertaqwa kepada yang maha kuasa, menjaga sikap untuk tetap menjaga 5S (senyum,sapa,salam,sopan,santun)
    Saya harapkan setelah mempelajari modul ini saya dapat mengetahui bagaimana cara saya untuk memulai mempraktikkan budaya positif di sekolah, menjaga budaya tersebut dan terus melestarikan budaya positif tersebut di sekolah saya sehingga sekolah saya menjadi lingkungan yang positif dan menghasilkan orang-orang yang positif pula.


Rabu, 27 Juli 2022

Jurnal Refleksi Modul 1.3 - Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V

 Visi Guru Penggerak


Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri.

Pendidik hanya dapat merawat dan menuntuntumbuhnya kodrat itu.”


bagaimana kita sebagai guru dapat mendesain lingkungan belajar yang memungkinkan tumbuhnya murid yang memiliki kemandirian dan motivasi intrinsik yang tinggi? 

Maka atas pertanyaan itulah, guru perlu terus berlatih meningkatkan kapasitas dirinya dalam memvisualisasikan harapan, menggandeng sesama dan mentransformasikannya menjadi harapan bersama. Dari sana, baru kemudian dilanjutkan dengan segala upaya gotong-royong yang diperlukan demi pencapaian harapan bersama tersebut. Harapan kita adalah visi kita. Visi kita sekarang adalah masa depan murid kita. Masa depan murid kita adalah masa depan bangsa kita, Indonesia.


BAGJA

B-Buat Pertanyaan utama (Define)

Membuat pertanyaan utama yang akan menentukan arah penyelidikan kekuatan/potensi/ peluang; mendefinisikan tujuan; pertanyaan dibuat untuk memprovokasi/ menginisiasi perubahan (prakarsa)


A-mbil pelajaran (Discover)

Menyusun pertanyaan lanjutan untuk menemukenali kekuatan/potensi/peluang lewat penyelidikan; mengidentifikasi/ mengapresiasi yang terbaik dari apa yang telah ada, menemukan "inti positif"; setiap pertanyaan dibuat dengan hati-hati dan sifatnya positif


G-ali mimpi (Dream)

menyusun deskripsi kolektif bilamana inisiatif terwujud ● membayangkan dan menggambarkan masa depan ● gambaran masa depan dimunculkan dari contoh-contoh yang membumi dari masa lalu yang positif ● mengalokasikan kesempatan untuk berproses bersama, multi unsur (kapan, di mana, siapa saja).


J-abarkan Rencana (Design)

Mengidentifikasi tindakan konkret yang diperlukan untuk menjalankan langkah-langkah kecil sederhana yang dapat dilakukan segera, dan langkah berani/terobosan yang akan memudahkan keseluruhan pencapaian; ● Menciptakan organisasi yang ideal demi mencapai mimpi; ● Mempertahankan perubahan positif, atau menindaklanjuti masa lalu organisasi yang paling positif dan potensial ● Menyusun definisi kesuksesan pencapaian bertahap


A-tur eksekusi (Deliver) 

Menentukan siapa yang berperan dalam pengambilan keputusan; ● Merupakan awal dari penciptaan ‘budaya belajar apresiatif’ yang berkelanjutan; ● Menyelaraskan interaksi setiap orang (unsur) terlibat agar dapat bersama-sama menciptakan (co-create) masa depan ● Mendesain jalur komunikasi dan pengelolaan rutinitas (misal: protokol/SOP, knowledge management, monev/refleksi)



Ruang Kolaborasi

Pada Kegiatan Ruang Kolaborasi kami di minta untuk membuat visi Bersama.


Berikut ini hasil dari kerja kelompok kami : Creating The Same Goals

Demonstrasi Kontekstual

Pada kegiatan demonstrasi kontekstual kami diminta untuk membuat BAGJA dari prakarsa perubahan yang akan diterapkan di sekolah masing-masing. Dengan tahapan BAGJA maka prakarsa perubahan yang ingin kita laksanakan lebih terarah dan terkonsep.

Aksi Nyata 
Pada tahap aksi nyata, kami diminta untuk merancang / membuat imajinasi harapan tentang murid di masa depan. 
Berikut ini link youtube aksi nyata yang telah saya buat :

Rabu, 13 Juli 2022

Nilai & Peran Guru Penggerak (Jurnal Refleksi Modul 1.2) - Pendidikan Guru Penggerak Angkatan V

Refleksi minggu ini saya akan menuliskan apa yang telah saya lakukan dan saya alami selama mempelajari modul 1.2 , apa yang menarik buat saya kemudian rencana selanjutnya yang akan saya lakukan kedepan,  selanjutnya jurnal refleksi dwi mingguan ini saya menggunakan model I yaitu 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) atau 4P yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway.

Facts

Di dalam modul 1.2 saya mempelajari tentang nilai dan peran guru penggerak. Sebagai seorang guru penggerak kita hendaknya memiliki nilai-nilai berikut yaitu berpihak pada murid, mandiri, reflektif, inovatif, dan kolaboratif.

Adapun peran guru penggerak yaitu sebagai pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan pada murid, dan menggerakkan komunitas praktisi. Semua materi mengenai hal tersebut saya dapatkan pada bagian Eksplorasi Konsep. 

Kemudian pada Ruang Kolaborasi, kami bersama mendiskusikan satu nilai dan satu peran guru yang kami sepakati bersama dalam satu kelompok untuk kemudian menghasilkan suatu rancangan kegiatan di masa depan sesuai dengan nilai dan peran tersebut.

Berikut ini hasil dari kolaborasi kelompok kami :



Feelings

Selama pembelajaran modul 1.2 saya merasakan banyak sekali ilmu yang saya dapatkan. saya menyadari bahwa sesungguhnya selama ini sudah beberapa nilai-nilai dan peran dari pada guru penggerak yang sudah saya laksanakan akan tetapi masih belum mencolok dan perlunya pembiasaan dan dilaksanakan secara kontinyu hingga akhirnya nilai dan peran guru penggerak tersebut tertanam dalam diri saya. 


Findings

Dari pembelajaran modul 1.2 saya menemukan bahwa ternyata seorang guru penggerak memiliki nilai dan peran yang mendukung terlaksananya pemikiran filosofis KHD. Misalnya pada nilai berpihak pada murid, guru diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna sesuai dengan kodrat anak. Guru yang berperan mendorong kolaborasi, harus dapat menciptakan ruang untuk bekerjasama tidak hanya bagi siswa, tapi juga bagi rekan sesama guru dan komunitasnya di sekolah. Semua nilai dan peran guru penggerak tersebut semuanya berlandaskan atas filosofis pemikiran KHD.

Future

Setelah mempelajari modul ini, saya termotivasi untuk menerapkan nilai dan meningkatkan peran saya dalam pendidikan serta mengintegrasikan dalam pembelajaran di kelas agar dapat mencapai tujuan pendidikan sesuai harapan Ki Hadjar Dewantara. Meskipun tanpa kita sadari nilai dan peran guru penggerak tersebut sudah saya lakukan sebelumnya walaupun belum semua tampak, semoga kedepan saya dapat lebih menerapkan nilai dan peran tersebut dalam pembelajaran di kelas maupun di lingkungan sekitar. 

Rabu, 22 Juni 2022

Jurnal Refleksi Modul 1.1 Guru Penggerak Angkatan 5

 Assalamualaikum wr.wb

Salam Guru Penggerak!!

Bergerak, tergerak, menggerakkan!!

Kali ini saya akan menuliskan refleksi dari kegiatan pendidikan guru penggerak ini yang telah saya jalani selama kurang lebih 2 minggu. Jujur saya tidak begitu yakin akan sampai pada tahap ini, terpilih menjadi calon guru penggerak angkatan 5 mengalahkan ribuan pelamar diluar sana. Saya bukan orang yang pintar, tapi saya orang yang mau selalu belajar dan mengupgrade diri saya dengan cara apapun termasuk dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan, termasuk Pendidikan Guru Penggerak ini. 

Saya mengikuti Pelatihan Guru Penggerak ini yaitu untuk menambah ilmu dan wawasan saya tentang bagaimana menjadi guru yang lebih berkompeten dan profesional. Kepala sekolah saya sangat mendukung saya mengikuti program guru penggerak ini, beliau mendorong saya untuk mendaftar pendidikan guru penggerak ini, memberikan surat rekomenaasi, mensupport apapun hal yang diperlukan untuk kesiapan saya mendaftar. Namun sayang, saat saya dinyatakan lulus menjadi calon guru penggerak beliau sudah pensiun. Walaupun begitu saya terus berkomunikasi kepada beliau tentang kelulusan saya ini. Saya tidak menyangka, saya merupakan satu-satunya guru SMP yang lulus menjadi calon guru penggerak ini dari kecamatan saya, kecamatan Tungkal Jaya. Selain saya, Calon guru penggerak dari kabupaten saya ada 1 guru TK, 2 guru SD dan 1 guru SMA. 

Pengumuman kelulusan guru penggerak ini saya dapat pada tanggal 5 April 2022 di simpkb guru penggerak. Bersyukur bisa menjadi calon guru penggerak ini dengan semua konsekuensi yang harus dijalani selama 6 bulan kedepan. 

Pembukaan Program Guru Penggerak dilaksanakan secara daring pada tanggal 18 Mei 2022 dibuka oleh Dr.Iwan Syahril,Ph.D selaku Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. 

Kemudian dilanjutkan pada tanggal 21 Mei 2022 yaitu kegiatan Lokakarya Orientasi di SMP Negeri 6 Unggul Sekayu, Kegiatan dihadiri oleh Calon Guru Penggerak , Pengajar Praktik, Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, Kabid SMP Dinas Pendidikan Kab.Musi Banyuasin, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan dan Kepala PPPPTK Matematika Yogyakarta. kegiatan tersebut berlangsung dengan baik, dimulai dengan Pembukaan oleh Kabid SMP Dinas Pendidikan Kab.Musi Banyuasin. 

Berikut video Lokakarya Orientasi :


Kemudian para CGP dan PP beserta kepala sekolah dan pengawas masuk kedalam kelas masing-masing, disana kita saling berkenalan satu sama lain. baik dengan sesama CGP, dengan para PP juga dengan kepala sekolah serta pengawas. dalam kegiatan ini juga kita mendapatkan sedikit gambaran tentang apa saja yang akan kita semua laksanakan untuk Pendidikan guru penggerak selama 6 bulan kedepan, membuat aturan kelas, membuat harapan dan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi kedepan. 


Sebelum memulai pembelajaran di lms, yaitu dimulai dari modul 1.1 kami semua harus melakukan pretest terlebih dahulu untuk melihat kemampuan awal sebelum mempelajari modul tersebut. Kemudian pada kegiatan Mulai dari diri, peserta diminta untuk refleksi diri tentang pemikiran ki hadjar dewantara. Kemudian pada ekspolasi konsep, barulah kita belajar tentang kerangka pemikiran KHD, asas pendidikan KHD, Pendidikan yang menuntun, kodrat zaman dan kodrat alam, Budi Pekerti serta interpretasi pemikiran KHD. 


Kemudian semua pengetahuan yang kami dapatkan dari modul ekspolasi konsep, di diskusikan lagi dengan teman-teman sesama CGP,PP juga fasilitator di ruang diskusi virtual. Dalam kegiatan tersebut, selain membahas tentang Filosofi pemikiran KHD , kami juga merefleksikan proses kegiatan belajar mengajar kami selama ini dikelas, apakah sudah mencerminkan pembelajaran yang sesuai dengan filosofi KHD apa belum. Banyak sekali sharing ilmu yang didapat dari teman-teman semuanya, dan kita sama-sama sepakat untuk terus memperbaiki sistem pengajaran di kelas agar dapat berpihak pada anak. 


Kemudian pada ruang kolaborasi, kami diminta untuk mendiskusikan pemikiran KHD yang dapat diimplementasikan dalam konteks lokal sosial budaya daerah asal. Pada kegiatan ini kami sepakat untuk mengangkat tentang budaya "senjang" yaitu salah satu kesenian dari musi banyuasin yang kami kira dapat diimplementasikan dalam pendidikan. Tak cukup dengan waktu gmeet yang disediakan dari fasilitator, kami mengadakan diskusi virtual mandiri untuk menyelesaikan diskusi ini. Pada keesokan harinya, kami diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kami. Saya yang telah mendapat tugas sebagai pemateri, malah kehilangan sinyal disaat itu. saya sangat panik, takut bercampur kesal karena pada saat itu yang saya harapkan hanya agar saya dapat melaksanakan tugas saya dengan baik, namun apadaya sinyal sering kali menjadi hambatan. Untung saja teman sekelompok saya langsung menghandle semuanya, mereka memulai presentasi tanpa adanya saya. Alhamdulillah setelah beberapa cara yang saya coba, akhirnya sinyal saya pulih kembali. saya bisa ikut bergabung lagi dalam forum diskusi, saya bisa ikut andil dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kelompok lain. Setelah mendapatkan berbagai masukan dari teman-teman CGP juga dari fasilitator dan PP serta dengan melakukan diskusi virtual akhirnya tugas siap untuk di upload di lms 1.1.a.5.2


Pada tugas demonstrasi kontekstual , kami diminta untuk membuat karya demonstrasi dalam bentuk video, infografis, puisi atau bahkan lagu. saya membuat video demonstrasi kontekstual ini, kemudian menguploadnya dalam channel youtube pribadi saya. Kemudian pada elaborasi pemahaman tanggal 30 Mei 2022 melalui gmeet, kegiatan dipandu oleh ibu Deta Ratna Kristanti Iswari sebagai instruktur/pemateri. Dalam kegiatan ini kita membahas dan mendiskusikan tentang refleksi filosofis pembelajaran ki hadjar dewantara. Banyak sekali ilmu yang di dapat dari kegiatan elaborasi pemahaman ini, juga berbagi pengalaman dengan sesama CGP dan Instruktur tentang permasalahan-permasalahan yang sering timbul di sekolah.

Berikut ini videonya : 


Kegiatan selanjutnya yaitu koneksi antar materi , disini kita diminta untuk membuat kesimpulan dan refleksi terhadap pengetahuan dan pengalaman baru yang dipelajari dari pemikiran ki hadjar dewantara. Saya membuat video koneksi antar materi tersebut kemudian menguploadnya dalam channel youtube saya. Dalam proses pembuatan video ini, saya merasa video yang saya buat sangat jauh dari kata bagus, karena saya berekspetasi untuk membuat video yang baik dengan ditambahkan berbagai foto dan video pendukung refleksi kegiatan saya namun karena kekurangan waktu maka saya membuat video tersebut dengan hasil seadanya. jujur saya pun merasa kurang puas dengan hasil video tersebut, saya bertekat akan berusaha pada proyek berikutnya akan lebih maksimal lagi. 

Berikut ini videonya : 


Kegiatan terakhir yaitu aksi nyata. Setelah saya mempelajari modul 1.1 tentang Filosofi ki hadjar dewantara, saya mulai tergerak untuk mulai mengubah cara atau model pembelajaran saya di kelas. Jika dulu saya hanya melihat nilai siswa dari hasilnya saja, kali ini saya lebih menghargai proses siswa dalam pembelajaran. Saya berusaha bagaimana agar proses pembelajaran di kelas tidak membuat siswa tertekan, saya berusaha membuat proses pembelajaran di kelas lebih menyenangkan sehingga siswa merasakan senang berada di kelas, siswa mendapatkan pembelajaran dengan cara bermain. 

Pada kelas VII materi sistem tata surya, saya mengajak siswa membuat model bentuk tata surya dari kertas bekas. Hal ini sesuai dengan filosofi KHD tentang kodrat alam dan kodrat zaman, siswa harus bisa memanfaatkan kertas bekas yang ada di sekitarnya untuk digunakan sebagai bahan ajar mereka. Siswa saya buat menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok saya tugaskan untuk membawa kertas bekas, cat air, steroform/kardus bekas. Dengan berkelompok, siswa dapat berkolaborasi dengan teman sekelasnya, dapat melatih budi pekerti mereka untuk tidak egois dalam melaksanakan tugas kelompok. 


Langkah pembuatan model tata surya tersebut yaitu kertas bekas yang telah disiapkan dihancurkan dan dimasukkan ke dalam air hingga terbentuklah bubur kertas, kemudian bubur kertas ini dibentuk hingga membentuk bulatan-bulatan kecil, ukuran bulatan-bulatan ini berbeda tergantung dengan jenis planet-planet yang dibuat. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat memahami bahwa ukuran planet-planet pada tata surya itu berbeda. Setelah bulatan-bulatan kecil tersebut jadi, kemudian dikeringkan hingga mengeras, setelah itu bulatan-bulatan tersebut di cat dengan menggunakan cat air, warna cat ini dibedakan berdasarkan warna dari planet-planet yang dibuat. Hal ini dilakukan agar siswa memahami bentuk dan warna serta sifat dari planet-planet tersebut. 


Setelah di cat, kemudian bulatan planet tersebut ditempelkan di atas steroform ataupun kardus bekas. Penempelan harus berurutan sesuai dengan urutan tata surya. kegiatan ini dimaksudkan agar siswa dapat memahami urutan dari sistem tata surya. Serta diberi nama tiap model planet-planet tersebut dengan menggunakan kertas, agar anak lebih dapat mengingat urutan dari sistem tata surya. 



Kemudian perwakilan dari kelompok untuk mendiskusikan hasil dari karya nya di depan kelas, memaparkan model tata surya yang dibuat dan membuka diskusi kecil dengan kelompok lain. Hal ini bertujuan agar dapat menciptakan ruang bagi murid untuk bertumbuh secara utuh agar mampu memuliakan dirinya dan orang lain.


Alhamdulillah dalam proses kegiatan aksi nyata dikelas ini tidak ada hambatan yang berarti , siswa dapat melaksanakan tugas yang saya berikan dengan baik, bisa membagi tugas dengan teman-teman satu kelompok hingga pekerjaan kelompoknya dapat menghasilkan hasil yang baik. Perasaan saya ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas, saya merasa sangat senang ternyata siswa lebih mudah memahami materi yang diberikan dengan cara praktikum dibandingkan dengan model konvensional seperti dahulu. Karena saya sudah pernah mengajarkan kepada mereka tentang tata surya tapi dengan metode ceramah, pada saat itu hanya beberapa siswa saya yang dapat menjawab ketika saya tanya langsung secara lisan, semua berbeda saat saya mengganti model pembelajaran dengan praktikum yang menyenangkan, semua siswa bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan mudah. 

Kemudian, pada tanggal 3 Juni 2022 kemarin saya mendapatkan pendampingan individu dari Pengajar Praktik saya, Bapak Suratman,S.Pd.,M.Pd. Dalam kegiatan ini beliau juga membantu saya merefleksikan diri saya tentang apa saja yang saya dapat dan yang saya pelajari selama mempelajari modul 1.1, beliau juga menanyakan mengenai aksi nyata saya di dalam kelas, diskusi pembuatan kerangka portofolio, diskusi peta posisi diri dan rencana pengembangan diri dalam kompetensi guru penggerak serta memberikan bimbingan dan arahan kepada saya demi kelancaran dalam mengikuti Pelatihan Guru Penggerak ini. 


Pelajaran yang saya dapatkan dari proses pembelajaran pada modul 1.1 ini yaitu Bagaimana kita sebagai guru harus bisa menerapkan pendidikan yang berpusat pada anak. Guru sebagai pamong dalam memberi tuntunan dan arahan pada anak, memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Pendidikan pada anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini  menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad ke-21, sedangkan dalam kodrat alam, kita sebagai pendidik harus bisa memanfaatkan kekayaan alam atau lingkungan siswa untuk menjadi bahan ajar siswa salah satunya pembuatan model tata surya ini. 

Hal yang baru saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini yaitu bahwa dalam proses pembelajaran di dalam kelas saya masih banyak sekali kekurangan. Selama ini saya tidak menerapkan pembelajaran yang memerdekakan siswa, saya hanya berpatok pada nilai KKM tanpa memperhatikan nilai proses. Selama ini saya hanya berpikir bagaimana peserta didik saya paham dengan materi materi yang saya berikan dan dapat mengerjakan semua tugas dengan baik dan tentunya memperoleh nilai yang bagus.

Hal yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan yaitu saya harus terus berinovasi mencari model pembelajaran berdasarkan materi-materi ajar yang dapat digunakan dikelas sehingga pembelajaran dapat berpusat pada murid dan membuat siswa merasa nyaman di kelas.

Aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini yaitu saya akan memperbaiki proses pembelajaran saya dikelas. saya akan menjadi pamong yang dapat memberikan tuntunan kepada siswa agar siswa dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Melaksanakan pendidikan pada anak yang sesuai dengan tuntutan kodrat alam dan kodrat zaman, salah satunya penggunaan IT dalam proses pembelajaran. Kita sebagai guru harus melek teknologi mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal dari negeri lain, namun kita juga harus menyaring budaya asing yang masuk ke Indonesia dengan tetap mengutamakan kearifan lokal sosial budaya Indonesia.  

Tentunya untuk mewujudkan semua harapan saya itu akan sangat memerlukan bantuan dari semua pihak, Bantuan dari fasilitator, bimbingan dari pengajar praktek, support dari Kepala Sekolah, Kolaborasi dengan rekan sesama guru, lingkungan yang mendukung, serta siswa sebagai objek pertama dalam tujuan Pendidikan ini.

Demikian Jurnal refleksi Dwi Mingguan saya, saya harap refleksi diri saya ini dapat menjadi acuan bagi saya untuk dapat lebih baik lagi kedepannya. Semoga saya dapat terus menyelesaikan tugas-tugas pada lms ini hingga akhir, begitu pula dengan proses pembelajaran di kelas saya harapkan dengan mengikuti Pelatihan Guru Penggerak ini saya bisa bergerak untuk memperbaiki pola pikir saya terhadap sistem pendidikan, tergerak untuk mengubah cara saya dalam menerapkan sistem pendidikan di kelas serta dapat menggerakkan rekan-rekan guru untuk dapat mempelajari filosofi ki hadjar dewantara kemudian menerapkannya dalam aksi nyata di kelas.

wassalamualaikum wr.wb




Transformasi Pembelajaran Melalui Difusi dan Inovasi: Menuju Masa Depan Pendidikan

Pendidikan adalah pilar utama dalam pembangunan suatu masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, metode pembelajaran juga perlu terus be...